Bulan Sabit
Faisal
“Mau antar aku beli hio, Sal?”
“Nggak, makasih.”
“Ayolah. Nanti aku bawa moon cake dari rumah, ya?”
Aku tidak suka asap dupa, tapi lagi-lagi mengatakan iya.
.
Toko tempat Mei-Yin membeli hio dindingnya dicat warna merah. Di setiap dinding ditata rapi lilin-lilin merah. Kertas untuk sembahyang dan kue keranjang.
Asap hio yang dibakar di sebelah kasir meliuk cantik, diam-diam mencekik.
Sejenak aku merasa terdampar di Cina. Tidak ada satupun kanji yang bisa aku baca.
Aku butuh kursus membaca kanji. Juga membaca hatimu, Mei.
.
Mei-Yin
Klenteng Sam Po Kong berwangi dupa, persis seperti yang dia benci.
Aku tahu yang mampu membawanya kemari hanya kembang api.
Atau mungkin juga lampion-lampion tadi.
.
Faisal
Aku membalas tatapan dua singa yang menjaga gapura.
Sorot batu yang beku lebih mudah dipahami daripada sinar matamu yang terlalu riang. Terlalu silau untuk aku yang sayu.
Terlalu hangat hingga membakar aku.
Sejenak aku memahami perasaan lilin-lilin merah itu. Hanya saja bukan perasaanku. Apalagi milikmu.
Cinta membuat buta. Tapi dinding yang membatasi kita masih bisa kuraba.
.
Mei-Yin
“Barongsai-nya bagus ya, Sal?”
“Iya. Eh lihat, dia lari ke sini. Mana angpao-mu?”
Singa berpayet dengan seringai lebar itu tersenyum.
Aku melambaikan sehelai angpao, yang ia sambar sembari bersalto.
.
Faisal
Di tanganku ada sehelai angpao merah bersampul gambar naga. Semerah lampion kertas, semerah cheongsam-nya yang sederhana, semerah pipinya saat aku sodorkan angpao.
“Oh! Asyik, angpao! Harusnya aku yang kasih kamu angpao, Sal. Terima kasih!”
“Buka, Mei.”
“Hah? Nggak, ah. Masak ngitung duit di depan yang ngasih, sih?”
“Itu bukan duit.”
.
Aku mengawasi matanya yang bulan sabit.
“Wo ai ni, Mei-Yin.”
Seharusnya tidak ada hujan di bulan.
Tidak ada banjir di bulan sabitku.
.
“Tapi aku nggak bisa, Sal.”
.
Dengan sekali tiupan, ada cinta yang dipaksa mengabu. Dengan sesak aku mengaku.
“Aku tahu. Selamat tahun baru.”
Seribu naga air menertawakanku dari jauh.
“Sal. Aku pergi dulu.”
Silahkan. Kalau mampu, dari hatiku.
“Aku juga, Mei-Yin. Selamat berdoa. Jangan keselek asap dupa, ya.”
“Kamu juga jangan lupa shalat di rumah.”
.
“Aku ini jeruk shantang yang kecut. Barongsai yang pincang. Aku lampion kertas yang robek saat dipajang. Aku mie Cina yang terputus selagi panjang.
Tapi cintaku tidak.”