Empat Kali Empat
Mulas, tapi hell no, ini bukan hamil muda.
Aku sedang sibuk beternak kupu-kupu di perut. Setiap melirik senyummu, lahir sejuta kupu-kupu baru. Saking banyaknya tidak bisa aku beri nama satu-satu.
.
Raya
Malam ini sudah ada delapan skenario di kepalaku.
Kedelapan-delapannya dibintangi kamu.
Aku tidak pernah menghitung domba lompat pagar sebelum tidur.
Jauh lebih sering menghitung berapa persen kemungkinan kamu menyukaiku.
.
Bima
Gadis ini tertawa. Gue bersyukur yang gue butuh cuma lelucon, Raya.
Kalau tawanya harus dibayar, bisa bangkrut gue lama-lama.
.
Raya
Aku sayang Bima. Tanpa dia, aku sekosong kolam renang olimpiade yang sedang dikuras tuntas.
.
Bima
Gue sayang Raya. Tanpa dia, hidup gue sejanggal warung seafood tanpa kucing yang mengemis secuil nila.
.
Raya
8 tahun kemudian kami bertemu lagi. Jemari kami bertaut dalam genggaman orang yang kami cintai.
Istrinya bernama Santi. Tunanganku bernama Rifki.
.
Di depan kamar kecil dia berdiri sendiri, kelihatan geli saat aku datangi.
“Bima. Udah lama sekali nggak ketemu, ya? Apa kabar 2003?”
“Ah, Soraya. Ternyata lo ngangenin juga, ya.”
“Bisa aja, Bim. Selamat untuk pernikahannya.”
Aku memeluknya erat-erat, menyembunyikan sekeluarga kupu-kupu yang lahir kembali. Perih.
.
Bima
“Makasih, Raya. Tunangan lo boleh juga. Tapi masih gantengan gue kan? Ngaku, deh. Dulu kan lo naksir gue! Hahaha.”
“Idih.”
Lalu sunyi.
“Sebenarnya, Bim. Dulu kita sama-sama naksir.” Oh ya? Seorang Raya baru ngaku setelah delapan tahun berlalu. Lucu. Cinta ternyata memudar, tapi nggak kadaluwarsa.
“Apa yang misahin kita dulu, Bim?”
Pelukan gue semakin erat.
“Hidup dan pilihan, Soraya.”
.
Raya
Aku melepas Bima dengan senyum. Setengah menertawai teman masa kecilku itu. Menertawai naksir-naksiran delapan tahun lalu. Yang dia tidak tahu, aku masih menyimpan surat-suratnya dulu.
Empat kali empat sama dengan enam belas. Sempat tidak sempat cinta gue harus dibalas.
Empat kali empat sama dengan enam belas. Erat tidak erat peluk harus dibalas.