Berkenalan Lewat Sumpit
“Ini Xiao Long Bao-mu, Chik.”
Kamu mengulurkan sepotong Xiao Long Bao diapit sumpit merah. Sambil tertawa, kujulurkan keranjang bambuku. Di dalamnya sudah ada tiga Hakau dan satu pangsit ayam.
Setiap tanggal dua belas. Kedai Dim-sum. Meja nomor dua belas.
.
Hari ini tanggal dua belas. Sudah tiga bulan berlalu.
Tapi aku dan kamu tidak pernah absen datang ke kedai ini, tidak alfa, tidak izin. Mas-mas penjual itu mungkin hafal mati wajah kita.
Setiap tanggal dua belas. Kedai Dim-sum.
Mejaku nomor tiga belas. Dan kamu akan duduk di meja nomor sebelas.
Tidak ada lagi perang sumpit berebut siomai terakhir. Tidak lagi saling adu senyum siapa yang termanis, sebagai hidangan penutup.
.
Aku dan kamu akan duduk bersama, berjarak satu meja.
Di depan kita ada satu keranjang bambu kecil dengan asap yang membumbung. Wangi Xiao Long Bao-mu mempermainkan aku. Pangsit kecil sialan itu seakan tahu kalau,
Kita hanya bisa saling menawarkan punggung. Bukan senyum.
.
Kita kembali menjadi orang asing.
Berjarak amnesia yang kupaksa agar ada. Biar lupa.
.
Sudah dua belas bulan kita menjadi orang asing 1 dan orang asing 2.
Dua orang bodoh yang saling menunggu tanpa mau mengganggu.
Berkomunikasi dengan bahasa tanpa kata. Mulutku ikut bisu. Kujejalkan penuh-penuh dengan fung zau panas. Supaya aku tak bisa berbalik untuk melontarkan bendungan kalimat ruwet di sela air mata.
Biar. Biar punggungku yang bicara.
.
Seharusnya malam ini perayaan dua tahunan kita. Aku sudah siap, dengan rambut disisir lurus-lurus yang dicek lima menit sekali. Jaket rajut yang kusiapkan sejak dua bulan lalu. Dengan langkah mantap, aku menjejak lantai kedai dim-sum itu.
.
Kemana kamu, orang asing? Sudah dua jam aku duduk di sini ditemani tiga keranjang bambu kecil. Mungkin kamu lupa, atau sengaja melupakan. Lalu pelan-pelan mataku buram. Aku tidak menangis, kan? Ini pasti gara-gara irisan jahe barusan.
.
Pintu kedai terbuka. Seorang asing yang punggungnya aku hafal kemudian berjalan ke arah kasir. Di tangannya ada Xiao Long Bao mengepul. Orang asing itu tidak berjalan ke arah meja sebelas. Ia duduk di depanku, diikuti tatapan mataku yang semakin sipit sehabis menangis.
“Halo. Boleh aku duduk di sini?” Lucu. Dia bertanya seakan-akan dia belum duduk dengan santai dan membuka tutup keranjang bambunya. Di depanku.
“Ini Xiao Long Bao-mu, err… boleh aku tahu namamu?”
“Lilian Rashika. Chika.” jawabku pendek. Apa permainanmu kali ini, orang asing?
“Oke, Chika. Namaku Rangga Bramantyo.”
“Oh. Nama yang bagus.” aku menjawab sekenanya.
“Ya. Memang bagus. Saking bagusnya sampai ingin kuberi nama belakangku padamu.”
Lalu untuk pertama kalinya setelah dua belas bulan, kita bertukar senyum. Bertukar nama. Bertukar pangsit lewat sumpit. Berkenalan lagi.
Perkenalan kedua setelah pertengkaran. Setelah lama berpunggung-punggungan.
Halo, Rangga. Namaku Chika. Aku ingin berkenalan denganmu seribu kali lagi.